Saya percaya proses. Dan saya jadi ingat proses saya dalam menulis.
Awal-awal menulis, saya menulis apapun. Tentang perasaan, kegalauan, kejadian hari itu, apapun. Apapun yang bisa saya indera. Itu terjadi saat saya duduk di bangku SMP.
Masuk SMA, tulisan saya menjadi absurd. Kaya deskripsi dan detail, tetapi permaslahan yang diangkat tidak penting sama sekali. Kadangkala sebuah momen sehari-hari, butiran fenomena yang terjadi di dalam hidup. Lalu saya tuangkan kemarahan di situ.
Lulus SMA, saya hobi menyarikan sebuah kejadian menjadi satu kalimat quote. Menyarikan pembelajaran yang bisa saya ambil tentunya. Dan itu tidak mudah. Hasilnya adalah berlembar-lembar quote karya saya sendiri -sebagian masih saya ingat, sebagian lenyap ditelan Mulltiply karena kebangkrutannya.
Di masa kuliah, tulisan saya menjadi besar ide. Contoh yang saya masukkan sangat bombastis. Ide-ide yang saya keluarkan sangat makro. Lebih mengajak ke patriotisme dan didukung dengan bahasa menghipnotis dan rentetan quote.
Dalam proses kuliah itu, saya menyadari bahwa perbuatan jauh lebih penting daripada tulisan. Saya menyadari bahwa-bahwa tulisan-tulisan paling keren justru ditulis dengan berbasiskan pengalaman nyata, bukan dari teori yang memikat. Jatuh-bangun itu, proses berdarah-darah yang dialami penulisnya, lalu ia berhasil mendokumentasikannya dalam untaian kalimat, itulah yang menjadikan sebuah tulisan bagaikan emas. Iya, daftar pustakanya begitu minim, bahkan seringkali bertentangan dengan teori umum. Namun, itulah sebenarnya yang bernilai.
Dan saat ini, saat saya menulis, saya lebih banyak mengangkat story -kisah-kisah penuh pembelajaran, keragaman kosakata yang meningkat, tetapi dibalut dengan bahasa yang simpel. Saya ingin sesederhana mungkin dalam mengalirkan sebuah ide. Dengan gaya bahasa apa adanya -yah, mungkin sedikit mengajak, memperbanyak contoh yang dekat dengan keseharian, dan mengangkat lebih banyak kemanusiaan.
Ke depannya? Saya tidak tahu. Mari terus berproses, sobat.
